Kamis, 19 April 2012

SEJARAH PRABU KIANSANTANG (Putra Prabu Siliwangi)

Setelah sekian banyak catatan sejarah yang sudah saya baca dan makam/kuburan yang dianggap sebagai makam Prabu Kian Santang yang sudah saya kunjungi, akan tetapi pertanyaan tersebut [judul di atas] sampai saat ini belum saya temukan jawabannya secara pasti, bahkan semakin banyak saya cari tau, semakin tidak jelas dimanakah makam sebenarnya, Prabu Kian Santang.


Prabu Kian Santang atau Pangeran Walangsungsang atau Sunan Rohmat atau Sunan Godog atau Ki Samadullah atau Abdullah Iman atau Pangeran Cakrabuana atau Hurang Sasakan atau Sri Mangana atau Gagak Lumayung atau Maulana Ifdil Hanafi atau Haji Tan Eng Hoat dilahirkan sekitar tahun 1423 M merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yaitu Nyai Rara Santang atau Nyai Hajjah Syarifah Mudhaim lahir sekitar tahun 1426 M dan Raja Sangara lahir sekitar tahun 1428 M. Dari hasil perkawinan antara Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang atau Nyai Subang Karancang.

Sejarah hidup Prabu Kian Santang juga terdiri dari beberapa versi, akan tetapi sejarah hidup beliau yang paling terkenal terutama oleh kalangan masyarakat Jawa Barat adalah awal mula beliau memeluk agama Islam.


Dalam Babad Godog diceritakan bahwa Kian Santang muda saat itu adalah seorang yang sangat sakti, sampai-sampai beliau tidak pernah melihat darahnya sendiri. Jiwa mudanya yang bergelora membawa beliau berkelana mencari orang yang sanggup mengalahkan beliau sampai beliau dapat melihat darahnya sendiri, hingga pada suatu saat beliau mendengar bahwa di daerah arab ada seorang yang sangat sakti mandra guna. Dengan ilmu ”napak sancang”nya (dapat berjalan di atas air) beliau sampai di wilayah arab dan bertemu dengan orang tua di pinggir pantai, dan singkat cerita mereka bertemu dan berkenalan sehingga orang tua tersebut mengajak beliau ke rumahnya dan orang tua tersebut berjanji akan mempertemukan dengan orang sakti yang dicarinya, dalam perjalanan ke rumah, tongkat orang tua tersebut tertancap dipasir, dan orang tua tersebut meminta bantuan Kian Santang untuk mengambilkannya, akan tetapi walaupuan seluruh ilmu kedigjayaan yang beliau miliki digunakan untuk mencabut tngkat tersebut, tetap saja tongkat tidak dapat diambil, sampai akhirnya keluar darah dari pori-pori tangan kian santang. 


Dari kejadian tersebut Kian Santang baru menyadari bahwa orang tua yang bertemu dengannya adalah orang yang dicarinya, orang tua tersebut adalah Syaidina Ali bin Abu Thalib ra., akhirnya beliau pun insyaf atas kesombongannya dan memeluk agama Islam.

Dalam cerita lain pula ada yang menyebutkan bahwa beliau memeluk Islam dibai’at langsung oleh Rasulullah SAW., kedua kisah tersebut jika dirunut berdasarkan periode waktu beliau di lahirkan dengan periode Rasulullah dan para Sahabat sangat terpaut jauh periodenya yaitu sekitar kurang lebih delapan abad. Wallahualam…


Berdasarkan sumber lain di ceritakan pula bahwa beliau sudah memeluk agama Islam sejak kecil/lahir, karena beliau adalah cucu dari Syekh Quro dari karawang, ayah dari ibunya yaitu Nyai Subang Larang. Kemudian beliau belajar agama Islam pada Syekh Datuk Kahfi di Cirebon, dan pergi ke tanah suci untuk melakukan haji sekaligus memperdalam ilmu agama Islam bersama adiknya yaitu Nyai Rara Santang. 


Setelah kembali ke tanah Jawa, beliau mendirikan kerajaan Cirebon dan menyebarkan agama Islam, sampai suatu waktu beliau mengajak ayahnya yaitu Prabu Siliwangi untuk memeluk agama Islam, tapi walau pun Prabu Siliwangi sudah menyadari bahwa agama Islam adalah agama yang benar, karena Nyai Subang Larang istri Prabu Siliwangi, Ibunda Kian santang Sendiri adalah seorang muslimah, akan tetapi ayah beliau Prabu Siliwangi belum diberikan hidayah oleh Allah SWT. untuk memeluk agama Islam. 


Sampai terjadilah suatu kejadian yang terkenal pula kisahnya dikalangan masyarakat Jawa Barat yaitu kisah dikejar-kejarnya Prabu Siliwangi oleh Kian Santang dan dalam proses pengejaran itu masing-masing menggunakan ilmu ”nurus bumi” yaitu berlari dibawah tanah. Sampai di sebuah hutan di daerah Garut yang bernama hutan Sancang mereka bertemu dan bertarung mengadu kesaktian.

Akan tetapi Prabu Siliwangi kalah dalam pertarungan tersebut dan Prabu Siliwangi dengan kebijaksanaanya mempersilahkan pengikutnya untuk mengikuti ajaran Kian Santang, cerita ini termaktub dalam Uga Wangsit Prabu Siliwangi.


Perjalan panjang hidup Kian Santang yang berkelana antara wilayah tatar Sunda dan Cirebon, hal ini lah menjadikan makam beliau ada dimana-mana yaitu diantaranya di komplek pemakamam Gunung Jati – Cirebon, di daerah Godog – Garut – Jawa Barat, di daerah hutan Sancang – Garut – Jawa Barat, dan dibeberapa tempat lainnya. Dan untuk makam asli beliau tidak ada yang tau pasti, tapi jika mengikuti perjalanan sejarah, makam yang berada di komplek pemakaman kesultanan Cirebon yang ada di wilayah Gunung Jati, yang lebih mendekati kebenaranan. 


Makam yang berada ditempat lain hanya merupakan suatu simbol yang dibuat oleh masyarakat diwilayah tersebut yang menunjukan bahwa beliau pernah ke wilayah tersebut (patilasan [sunda: bekas singgah]). Hal ini sama seperti makam-makam seorang nabi yang berada di beberapa tempat.



 Mau punya penghasilan lewat blog? Daftar langsung dapat 250.000, klik sini

4 komentar:

  1. sejarah pralaya pajajaran...adalah upaya sistematis penyebaran agama baru dari para syeik keturunan arab di pulau jawa, termasuk islamisasi majapahit maupun mataram yang lebih awal islami. adapun walangsungsang, raja demak dll. adalah media dan alat yang efektif proses islamisasi...dan kebetulan mereka memerlukan bantuan kekuatan teknit militer arab yang pada waktu itu sudah jauh lebih maju guna kepentingan merebut tahta kerajaan masing masing...mengingat mereka bukan putra mahkota pewaris syah tahta..alih alih sang kian santang tidak hanya merebut yang bukan haknya, alih alih kiansantang mengorbankan keyakinan, wilayah dan budaya ...hanya demi tahta yang bukan haknya...wilayah cirebon sekarang sudah tidak mencerminkan budaya sunda asli, pajajaran kehilangan wilayah brebes, cilacap dan sekitarnya yang dulu kawasan kerajaan sunda. kian santang raja penggadai pajajaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sangat setuju dengan anda Prabu Seda.....sayangnya bangsa ini terlalu bodoh, tidak bisa bersyukur...boro boro menjaga semua yang telah susah payah diperjuangkan oleh para pendahulu, malah lebih bangga menjadi orang lain, ibarat kacang lupa kulit.

      Hapus
  2. kian santang dan prabu siliwangi ke 7 adalah kawan baik
    kian santang memakai kuda berwarna putik sedangkan prabu siliwangi memakai welang ( macan putih ).

    BalasHapus
  3. sejarah itu harus kita hargai,karna kita bukan orang israel yang tidak mempunyai sejarah budaya dan adat. kita harus bersyukur dilahirkan yang mempunyai sejarah diketurunnya.
    ada sumber: bahwa sebenarnya prabu siliwngi tidak mati tapi (ngahiang) atau menghilang saat bertempur dengan anaknya dan sebelum menghilang dia mengatakan bahwa ia akan memperjuangkan/membantu jalan agama islam dalam hal apapun tapi ia akan masuk islam setelah kiamat datang. percaya ga percay coba anda buktikan disetiap maqam wali selalu dijaga oleh jin yang berwujud maung.
    dan yang menjadi perdebatan antara anak dan bapa itu adalah perkara hari kiamat.

    BalasHapus